Translate

Tuesday, 8 April 2014

Kita diciptakan oleh Allah untuk menjadi bejana Allah


Dalam berita ini kita akan melihat bahwa manusia yang diciptakan oleh Allah adalah bejana Allah.

1. MEMILIKI ROH SEBAGAI PENERIMA UNTUK MENERIMA ALLLAH.

Maksud Allah menciptakan manusia adalah untuk memperoleh suatu bejana yang dapat diisi olehNya guna mengekpresikanNya. Dalam berita ini kita akan menekankan satu butir penting – manusia ciptaan Allah adalah satu bejana. Konsep ini tidak ada pada kebanyakan orang Kristen. Kebanyakan orang Kristen berpikir bahwa  manusia harus menjadi alat yang dipakai oleh Allah. Pemikiran tertinggi yang mereka miliki adalah manusia harus menjadi pelayan Allah. Pemikiran bahwa manusia sebagai bejana Allah tidak ada pada diri mereka, sebab pemikiran ini tidak dalam otak manusia kita.
Dalam pemikiran Allah, manusia adalah suatu wadah bukan suatu sarana atau alat. Selain manusia menjadi bejana, suatu wadah untuk diisi Allah dan untuk dipenuhi oleh Allah, manusia tidak dapat digunakan oleh Allah untuk merampungkan kehendakNya. Bileam, nabi kafir, adalah orang yang dipakai Allah tetapi dengan cara yang sangat aktif. Ini dikarenakan meskipun dia adalah seorang nabi, tetapi dia tidak menjadi bejana untuk diisi Allah,  dia bukan wadah Allah.
            Dalam Roma 9:21,23 Paulus memberitahu kita, bahwa Allah menciptakan manusia adalah untuk menghasilkan, menciptakan manusia sebagai bejana, guna merampungkan kehendakNya. Allah menciptakan manusia sebagai bejana untuk olehNya, sama seperti tukang periuk membuat bejana tanah liat untuk diisi sesuatu. 2 Korentus 4:7. Juga menyampaikan pemikiran ini. Rasul Paulus menganggap dirinya sebagai bejana tanah liat untuk diisi  harta mustika, dan harta itu adalah Kristus, adalah Allah.
Karena itu dalam Roma 9  dan 2 Korentus 4  kita dapat melihat wahyu yang jelas, bahwa manusia diciptakan Allah sebagai bejana Nya untuk diisi Dia.


            Sebagai bejana untuk diisi Allah, manusia memerlukan organ penerima untuk menerima Allah dan inilah satu-satunya perbedaan antara manusia ciptaan Allah dengan mahluk ciptaan Allah yang lain. Selain kepada manusia, Allah tidak memberikan kepada mahluk ciptaan yang lain. Menurut Kejadian 2:7, Allah menciptakan manusia dengan debu untuk membentuk tubuh. Lalu Dia mengembuskan nafas hidup ke dalam lubang hidung manusia dan manusia menjadi jiwa yang hidup.  Kejadian 2:7 memperlihatkan kepada kita gambaran manusia sebagai bejana buatan Allah.
            Di dalam manusia perlu organ penerima untuk menerima dan menampung Allah. Radio memiliki kontak luar dan penerima di dalam untuk menerima gelombang radia yang tidak kelihatan. Kejadian 2:7 memperlihatkan, bahwa manusia memiliki tubuh di luar yang terbuat dari tanah, dan penerima di dalam yang dihasilkan oleh nafas hidup Allah. Penerima di dalam ini adalah roh manusia.


a.      Roh Manusia Sangat Dekat dengan Allah Sang Roh.

              Roh manusia sangat dekat dengan Allah Sang Roh. Banyak pembaca Alkitab salah mengerti, mengira bahwa  nafas hidup yang diembuskan ke dalam hidup manusia yang terbuat dari debu adalah hayat Allah. Mereka  menganggap bahwa pada saat penciptaan, Allah memberkan hayatNya ke dalam tubuh manusia. Mereka tidak melihat perbedaan antara pengembusan nafas hidup ke dalam manusia oleh Allah dalam Kejadian 2:7  dengan pengembusan Roh Kudus ke dalam murid-murid oleh Tuhan Yesus dalam Yohanes 20:22. Ketika Tuhan Yesus mengembuskan Roh Kudus kedalam murid-muridNya, hayat yang kekal masuk ke dalam murid-murid. Tetapi ketika Allah mengembuskan nafas hidup ke dalam tubuh manusia, nafas hidup tersebut menjadi roh manusia.
            Ada 2 prinsip yang mencegah kita mengatakan, bahwa hayat Allah masuk kedalam manusia pada saat penciptaan ketika Allah mengembuskan nafas hidupNya. Prinsip pertama adalah karena tekad bebas manusia. Bila Allah telah menaruh hayat kekalNya ke dalam manusia pada saat penciptaan, maka manusia tidak perlu menggunaka  tekad bebasnya. Itu berarti penciptaan Allah telah menggenapkan kehendakNya tanpa penggunaan tekad manusia. Itu berlawanan dengan prinsip ilahi Allah yang memberikan tekad yang bebas kepada manusia.

                Tidak hanya demikian, mengatakan bahwa manusia menerima hayat kekal Allah pada saat penciptaan, menurut Alkitab, itu bukan haya berlawanan dengan prinsip ilahi tentang tekad bebas manusia, tetapi juga berlawanan dengan ekonomi Allah. Alkitab memperlihatkan bahwa setelah penciptaan Allah. Allah menginginkan manusia memilih Dia, sehingga Dia  menempatkan manusia di depan  pohon hayat, mengharapkan manusia dengan bebas meilih menerima hayat Allah ke dalam dirinya sebagai hayat. Akan sangat berlawanan dengan ekonomiNya bila  Allah menaruh hayatNya ke dalam manusia pada saat penciptaan.
                Setelah kejatuhan manusia, Allah menutup jalan menuju pohon hayat. Menurut wahyu dari Kejadian 3 bagian akhir, Allah menutup jalan yang menuju pohon hayat, agar manusia yang telah jatuh dapat hidup selamanya dengan sifat jahatnya (ay.22-24). Ini memperlihatkan, bahwa manusia tidak memiliki hayat kekal Allah pada saat penciptaan. Sebetulnya, manusia tidak dapat menerima hayat kekal Allah sampai Tuhan Yesus melalui kematian dan kebangkitan menggenapkan penebusan untuk menyelesaikan masalah dosa manusia dan untuk membebaskan hayat kekal Allah.
Banyak orang salah mengatakan, bahwa manusia menerima hayat Allah pada saat penciptaan. Mereka mengutip  Lukas 3:38 yang mengatakan, bahwa Adam adalah anak Allah. Mereka mempertahankan bahwa Adam pasti memiliki hayat Allah; kalau tidak, dia tidak bisa menjadi anak Allah. Tetapi para malekat juga disebut anak-anak Allah Ayub 1:6;38:7. Itu tidak berarti para malekat memiliki hayat ilahi Allah dengan sifat ilahi Allah. Dalam Alkitab, kata anak sedikitnya memiliki dua arti. Arti pertama ialah orang yang dilahirkan dari Bapa oleh hayat Bapa dengan sifat Bapa. 


Arti ke dua ialah orang yang diciptakan Allah. Karena Adam dan para malekat diciptakan oleh Allah, maka mereka disebut anak-anak Allah. Allah adalah sumber mereka. Bahkan anak angkat walau disebut anak dari ayah angkatnya, tetapi dia tidak memiliki hayt dan sifat ayahnya. Adam dianggap anak Allah sebab dia diciptakan oleh Allah, bahkan pujangga-pujangga kafir juga mengaggap semua orang adalah keturunan Allah Kisah Rasul.17:28. Manusia hanya diciptakan oleh Allah, bukan keturunanNya. Ini tentu berbeda dengan orang-orang yang percaya dalam Kristus yang menjadi anak-anak Allah. orang beriman telah dilahirkan oleh Allah, dilahirkan kembali oleh Allah, dan memiliki hayat dan sifat Allah Yohanes 1:12-13; 3:16;  2Petrus 1:4.
                Walaupun manusia tidak menerima hayat Allah pada saat penciptaan, namun manusia diciptakan dengan memiliki roh yang berasal dari sifat hidup Allah. Maka walaupun roh manusia bukan Roh Allah atau hayat ilahi Allah, roh manusia sangat dekat dengan Roh Allah. Inilah sebabnya roh manusia dapat menerima Allah Sang Roh. Suatu benda, misalnya tembaga, memiliki kemampuan untuk menerima listrik; tetapi kayu atau kertas tidak. Antara listrik dengan tembaga tidak ada sekatan, tetapi ada sejenis transmisi. 

Demikian juga antara Allah Sang Roh dengan roh manusia kita ada sejenis transmisi; tidak ada sekatan. Namun antara tubuh fisik kita dengan Roh Allah atau antara jiwa kita dengan Roh Allah ada sejenis sekatan; tidak ada transmisi. Karena roh manusia berasal dari nafas hidup Allah, roh manusia kita sangat dekat dengan Allah Sang Roh. Kita harus menekankan hal ini, sebab hal ini akan meletakkan dasar baik untuk pelajaran selanjutnya tentang hayat. Kita tidak dapat membantu orang lain dalam hayat, bila kita kehilangan butir yang sangat penting ini

Khotbah 2 januari 2011 

Pdt. Felix Agus Virgianto


Penciptaan Allah


1. SANG PENCIPTA –ALLAH TRITUNGGAL

Pencipta manusia adalah Allah tritunggal – Bapa, Putra dan Roh. Terciptanya manusia berkaitaan erat dengan Allah Tritunggal. Bukan hanya Allah yang menciptakan manusia, melainkan Allah Tritunggal. Dasarnya adalah  Kejadian 1:26 mengatakan, ”Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan (menciptakan) manusia menurut gambar dan rupa Kita” Di sini menggunakan kata ganti jamak “Kita”, menunjukkan Allah yang hendak menciptakan manusia adalah Allah Tritunggal – Bapa, Pura, dan Roh. Menurut Kejadian 1:26, seperti sebelum Allah menciptakan manusia, Allah Tritunggal mengadakan semacam “rapat ke-Allahan”, rapat di antara Trinitas, untuk memutuskan bagai mana menciptakan manusia menurut gambar dan rupaNya. 

Keputusan menciptakan manusia ditetapkan oleh Allah Tritunggal, ini menyatakan bahwa penciptaan manusia adalah untuk tujuan Allah Tritunggal. Trinitas ke Allahan bukan untuk doktrin teologi, melainkan untuk penyaluran diri ke dalam manusia sesuai dengan ekonomi ilahiNya. Inilah sebabnya begitu Allah hendak menciptakan manusia, Allah memutuskan melakukannya dalam ke TrinitasanNya. Karena itu Dia berkata, “Baiklah Kita menciptakan manusia menurut gambar Kita.”  Tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk merampungkan ekonomiNya, yaitu menyalurkan diriNya sendiri ke dalam manusia.


2. MENURUT GAMBAR ALLAH

Kolose 1:15 mengatakan, "bahwa Dia, AnakAllah yang kekasih adalah gambar diri Allah yang tidak kelihatan", dan 2 Korentus 4:4 menyebutkan, "bahwa Kristus adalah gambar Allah". Allah memutuskan dalam ke- AllahanNya untuk menciptakan manusia menurut gambarNya, dan berdasarkan Alkitab, gambar Allah tak lain adalah Kristus. Gambar di sini bukan berarti bentuk fisik, melainkan ekspresi hakiki Allah dalam semua atribut dan kebajikanNya. Semua atribut dan kebajikan Allah tak terlihat. Semua itu adalah unsur pokok diri Allah. Allah penuh dengan atribut dan kebajikan yang tak terlihat. Kristus adalah ekspresi segala atribut dan kebajikan Allah, dan ekspresi ini adalah gambaran. Jadi, gambar Allah adalah ekpresi Allah dalam segala hakikiNya.
           Kita harus menunjukkan kepada orang bahwa, “gambar Allah” bukan berarti satu tokoh atau bentuk gambar untuk disembah orang, melainkan berarti ekspresi dari hakiki Allah. Allah menciptakan manusia menurut gambarNya, artinya, manusia ciptaan Allah itu memiliki atribut dan kebajikan yang ada pada Allah. Ketika Allah menciptakan manusia, Dia menciptakan manusia menurut gambarNya, menurut atribut dan kebajikanNya, agar manusia dapat mengekspesikan Allah melalui atribut dan kebajikan itu. Misalnya, Allah memiliki kasih, dan Allah juga mengasihi. Ketika Allah menciptakan manusia, Ia membuat manusia memiliki kasih dan dapat mengasihi. 
       Allah memiliki hikmat dan memiliki tujuan, karena itu, Allah menciptakan manusia agar manusia berhikmat dan bertujuan. Allah bisa berpikir, menimbang, mengasihi, merasa suka dan tidak suka, memiliki tujuan dan mengambil keputusan. Allah menciptakan manusia juga dalam keadaan yang sama agar manusia dapat mengekspresikan Dia. Namun, apa yang dimiliki manusia hanya merupakan gambar atribut dan kebajikan Allah saja, belum memiliki realitasNya. Manusia harus menerima diri Allah menjadi hayat  dan isinya, kemudian Allah dengan segala atribut dan kebajikanNya memenuhi manusia menjadi realitas atribut dan kebajikan manusia.
           Manusia dijadikan menurut gambar Allah, yaitu Kristus. Ini menunjukkan bahwa manusia diciptakan agar Kristus dapat masuk ke dalam manusia, sehingga Dia memenuhi manusia dan memakai manusia wadahNya untuk mengekspresikan Dia. Manusia adalah sebuah wadah. Wadah selalu dibuat sesuai dengan isi yang akan di masukkan ke dalam wadah tersebut. Misalnya barang yang akan dimasukkan berbentuk persegi, Anda pasti membuat wadah berbentuk persegi. Bila barang yang akan dimasukkan berbentuk bulat, Anda membuat wadah berbentuk bulat. Wadah dibuat sesuai dengan barang yang akan diisikan ke dalamnya. Manusia diciptakan Allah menurut gambar Allah, yaitu Kristus, dengan tujuan suatu hari kelak manusia didapatkan oleh Kristus serta dipenuhi oleh Kristus, sehingga manusia menjadi wadah Kristus dan Kristus menjadi isi manusia.

3. MENURUT RUPA ALLAH

           Gambar Allah adalah hakiki batiniahNya, rupa Allah adalah bentuk lahiriahNya. Di dalam, Allah memiliki hakikiNya, memiliki semua atribut dan kebajikanNya; dan di luar, Allah memiliki rupa. Di satu aspek Allah tidak kelihatan. Namun kalau Allah tidak kelihatan  bagaimana bisa memiliki rupa? Hal ini sungguh sulit bagi kita sebagai manusia untuk memahami dan menjelaskannya. Dalam Kejadian 18, Allah menyatakan diri kepada Abraham dalam rupa manusia. Kita tidak bisa berkata, bahwa dalam Kejadian 18 Allah tidak terlihat dan tidak memiliki rupa. Allah menampakkan diri kepada Abraham secara terlihat dalam rupa manusia. Kejadian 18 menunjukkan, Allah memiliki rupa manusia. Rupa manusia menurut rupa Allah. Kita manusia memiliki tubuh fisik dan ini adalah rupa kita. Kita juga memiliki hakiki yang di dalam. Demikian juga, Allah memiliki hakikiNya  yang di dalam dan juga rupaNya yang di luar. Tubuh luar manusia diciptakan menurut rupa Allah. Sebelum Allah berinkarnasi menjadi manusia – Yesus Dia sudah menampakkan diri kepada Abraham dalam rupa manusia. Rupa manusia adalah bentuk rupa Allah, karena manusia diciptakan menurut rupa Allah.


4. DENGAN DEBU TANAH  MEMBENTUK  TUBUH  AGAR  MANUSIA  BISA   EKSIS

Kejadian 2:7 menyebutkan Allah membentuk tubuh manusia dari debu tanah. Tubuh fisik manusia adalah bagi eksistensi manusia. Tanpa tubuh fisik yang dibentuk dari debu tanah, manusia tak dapat eksis. Saat tubuh manusia mati, manusia itu mati; jadi eksistensi manusia tergantung pada tubuh fisiknya.

Khotbah 12 Desember 2010 

Pdt Felix Agus Virgianto