Translate

Wednesday, 3 April 2013

Pencurahan Roh Kudus

Keragaman Pengalaman
Mungkin anda bertanya,”Bagaimana aku tahu bahwa Roh Kudus sudah turun ke atas diriku?” saya tidak dapat mengatakan bagaimana anda mengetahui, tetapi anda bisa mengetahuinya. Alkitab tidak memberi tahu kita gambaran tentang perasakan pribadi dan emosi murid-murid di hari Pentakosta. Kita tidak tahu persis bagaimana perasaan mereka, tetapi kita tahu, bahwa perasaan mdan perilaku mereka agak “abnormal”, karena orang-orang yang melihat mereka berkata bahwa mereka mabuk.

Ketika Roh Kudus turun ke atas umat Allah, akan terjadi sesuatu yang tidak dapat dipahami oleh dunia, akan terjadi sesuatu yang adikodrati, walaupun itu tidak lebih dari perasaan yang meluap-luap akibat penyertaan sesuatu yang ilahi. Kita tidak dapat dan tidak seharusnya menyatakan, bahwa keadaan tertentu dari ekspresi luaran itu pasti terjadi dalam setiap pencurahan Roh Kudus; tetapi kita dapat mengatakan, setiap orang yang telah dicurahi Roh Kudus pasti bisa mengetahui bahwa dirinya telah dipenuhi Roh Kudus.


Ketika Roh Kudus turun ke atas murid-murid pada hari pentakosta, perilaku mereka sangat khusus. Dengan mengutip Firman Allah, Petrus menjelaskan kepada orang-orang yang menyaksikan hal itu,”Tetapi itulah yang diFirmankan Allah dengan perantaan Nabi Yoel: akan terjadi pada hari-hari terakhir – demikianlah Firman Allah – bahwa aku akan mencurahkan Rohku ke atas semua manusia; maka anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi.”

Pada hari itu, apakan Petrus bernubuat? Sulit sekali mengatakan bahwa Petrus memiliki keadaan yang sesuai dengan nubuat yang dikatakan dalam kitab Yoel. Pakan keseratus dua puluh orang itu bernubuat dan Nampak visi? Alkitab tidak memberitahu demikian. Apakah mereka mendapat mimpi? Bagaimana mungkin, karena mereka dalam keadaan terjaga?

Lalu apa maksud Petrus mengutip pernyataan yang tidak cocok dengan keadaan saat itu? Dalam potongan Firman yang dikutip itu Yoel 2:28-29 nubuat, mimpi, dan penglihatan dikatakan akan menyertai pencurahan Roh itu, namun hal-hal itu tidak ada pada saat pentakosta.

Di pihak lain, nubuat Yoel tidak mengatakan tentang “suatu suara seperti angina keras yang menderu” atau “lidah-lidah api” sebagai yang terjadi pada pencurahan Roh itu; namun hal itu ternyata terjadi diruang atas itu. Dalam bagian mana dari kitab Yoel yang mengatakan bajwa mereka akan berbicara dengan bahasa lain? Namun murid-murid melakukannya pada hari Pentakosta.


Apa maksud Petrus? Bayangkan, dia mengutip Firman Allah untuk menunjukkan bahwa pengalaman pentakosta itu adalah pencurahan Roh Kudus yang dibicarakan Yoel, tetapi tidak satupun dari hal-hal yang disebutkan Yoel terjadi pada hari pentakosta! Apa yang dimiliki murid-murid itu tidak disebutkan dalam kitab Yoel! Nampaknya kutipan kitab Yoel oleh Petrus itu tidak membuktikan maksudnya. Bagaimanakah sebenarnya penjelasan misteri ini?

Bahwa pada hari itu Petrus berbicara di bawah kendali Roh Kudus. Kitab Kisah Rasul ditulis berdasarkan gerakan Roh Kudus, tidak ada satu katapun yang dicantumkan tanpa makna; tidak ada yang bertentangan, semuanya serasi sempurna. Perhatikanlah dengan cermat, Petrus tidak berkata, “ yang kalian lihat dan dengan adalah menggenapkan apa yang dikatakan oleh Nabi Yoel.” Tetapi Petrus berkata,”Inilah yang diFirmankan Allah dengan perantaan Nabi Yoel.” Kisah Rasul 2:16


Jadi ini bukan soal penggenapan, melainkan soal pengalaman dari perkara yang sama. “Itulah yang berarti perkaran yang kalian lihat dan dengar ini sama dengan yang pernah dinubuatkan itu”. Kalau kasus itu merupakan penggenapan, maka setiap pengalaman harus sama persis; harus ada yang bernubuat, harus ada yang mendapatkan mimpi, dan harus ada yang mendapatkan penglihatan. Tetapi Petrus berkata”itulah yang”. Ini bukan berarti perkara yang satu merupakan pengulangan dari yang lain, melainkan satu perkara dengan seluk beluk yang sejenis.

Dalam hal ini Roh Kudus melalui Petrus telah menekankan keragaman pengalaman. Penampilan luaran boleh banyak dan beragam, dan kitapun harus mengakui bahwa kadang-kadang hal-hal itu terlihat aneh, tetapi Roh Kudus hanya satu, dan Dia adalah Tuhan.

1 Korintus 12:4-6
12:4 Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh
12:5 Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan
12:6 Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang

Ketika Roh Kudus dicurahkan ke atas umat Allah, pengalaman mereka beragam. Ada yang menerima penglihatan baru, ada yang mengenal kebebasan baru dalam menenangkan jiwa, ada yang dalam memberitakan Firman Allah memiliki kuasa yang segar, ada yang dipenuhi dengan sukacita surgawi atau pujian yang meluap-luap.

Pengalaman macam apapun ang mereka alami, semuanya adalah pengalaman Pantekosta itu! Maka kita memuji Tuhan atas setiap pengalaman baru yang berhubungan dengan ditinggikannya Kristus, yang dapat dikatakan, bahwa “ini” adalah bukti dari “itu”. Penanggulangan Allah terhadap anak-anakNya tidaklah sama.
Sebab itu kita tidak seharusnya dengan berprangka dan berpraduga, menetapkan ukuran yang tertentu bagi pekerjaan Roh Kudus, baik dalam hidup kita sendiri atau dalam hidup orang lain. Hal ini juga berlaku bagi orang-orang yang menuntut ekspresi khusus “berbahasa lidah” sebagai bukti bahwa Roh itu telah turun keatas mereka, dan bari orang-orang yang menyangkal bahwa tidak ada ekspresi apapun yang diberikan.


Kita harus membiarkan Allah bebas bekerja menurut kehendakNya, dan memberikan bukti apa saja yang Ia senangi dari ekerjaan yang dilakukanNya. Dia adalah Tuhan, kita sedikitpun tidak ada hak untuk menentukan sesuatu bagiNya.

Marilah kita yang telah memahami bersukacita karena Yesus yang telah berada di tahta, dan memujiNya karena setelah Ia dimuliakan, Roh itu telah dicurahkan di atas kita semua. Ketika kita Nampak Dia disana, dan telah menerima fakta dalam iman yang sederhana, maka dalam pengalaman, kita bisa dengan pasti mengetahui , juga bisa dengan penuh keyakinan dan keberanian mengumumkan. “Ini adalah itu!”.

Berhuninya Roh Kudus di batin

Hal ini akan kita lihat dan bahas lebih banyak dalam Roma 8 karena pokok pembahasan dalam kitab tersebut adalah mengenai berhuninya Roh Kudus di batin. Roma 8:9 mengatakan, “jika Roh Allah memang diam di dalam kamu ….. “ ayat 11, “jika Roh Dia yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati tinggal didalam kamu……”

Sebagaimana dengan pencurahan Roh, demikian pula dengan Roh yang berhuni di batin. Jika kita ingin dalam pengalaman mengenal bahwa Roh Kudus yang berhuni didalam kita itu adalah satu fakta, mula-mula kita memerlukan wahyu ilahi. Ketika kita melihat Kristus sebagai Tuhan secara obyektif – yang ditinggikan ke tahta di surga – kita akan mengalami kuasa Roh diatas diri kita.

Ketika kita Nampak Kristus sebagai Tuhan secara subyektif – sebagai pemerintah yang efektif didalam hidup kita – kita akan tahu kuasa Roh itu didalam kita. Wahyu tentang Roh yang berhuni di batin adalah jalan penyelamatan yang ditawarkan Paulus bagi orang-orang Kristen di Korintus yang tidak Rohani.


Penting untuk diperhatikan, bahwa orang-orang Kristen di Korintus telah diduduki oleh tanda-tanda yang dapat dilihat dari pencurahan Roh Kudus, seperti “berbahasa lidah” dan melakukan mujizat mujizat, sedangkan hidup mereka penuh dengan kontrakdisi dan memalukan nama Tuhan. Memang mereka telah menerima Roh Kudus, namun mereka belum dewasa secara Rohani. Jalan penyelamatan yang Allah tawarkan kepada mereka adalah jalan penyelamatan yang ditawarkanNya kepada gereja hari ini dengan keluhan yang sama.

Dalam suratnya kepada orang-orang Korintus, Paulus menulis demikian, “Tidak tahukan kamu bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam didalam kamu” 1 Korintus 3:16. Untuk kaum saleh di Efesus ia berdoa, “agar mata hatimu terang…..agar kamu mengerti” Efesus 1:18

Pengenalan terhadap fakta ilahi tidak hanya dibutuhkan oleh orang-orang Kristen saat itu, juga dibutuhkan oleh orang-orang Kristen hari ini. Mata hati kita perlu diterangi dan dicelikkan agar mengenal bahwa Allah sendiri melalui Roh Kudus telah tinggal didalam hati kita. Didalam Roh Kudus Allah beserta dengan kita, demikian juga kristus didalam Roh Kudus beserta kita. Jadi jika Roh Kudus tinggal didalam hati kita, maka Bapa dan Putra juga tinggal didalam kita. Ini bukan hanya teori atau doktrin, melainkan suatu realitas yang sungguh membahagiakan.


Mungkin kita benar-benar telah menyadari bahwa Roh Kudus sudah ada didalam kita, tetapi sudahkan kita mengenal bahwa Ia adalah satu Persona? Sudahkah kita mengalami bahwa memiliki Roh itu bersama kita berarti memiliki Allah yang hidup di batin kita?

Bagi banyak orang Kristen, Roh Kudus seolah tidak begitu nyata. Mereka menganggapNya suatu pengaruh belaka – suatu pengaruh kearah kebaikan, itu pasti, tetapi tidak lebih dari sekedar pengrau. Dalam pemikiran mereka, hati nurani dan Roh itu sedikit banyak dianggap sebagai “sesuatu” yang ada didalam mereka, yang mengingatkan mereka kepada Alkitab ketika mereka berbuat jahat dan mencoba menunjukkan  kepada mereka bagaimana menjadi orang yang baik. Persoalan yang dihadapi orang-orang Kristen di Korintus bukanlah soal kekurang Roh yang berhuni di batin, melainkan mereka kurang mengenal kehadiranNya.


Mereka tidak menyadari bahwa yang maha agung itu telah masuk dan tinggal didalam hati mereka. Sebab itu Paulus menulis kepada mereka, “Tidak tahukan kamu, bahwa kamu adalah bait Allah, dan bahwa Roh Allah tinggal didalam kamu?” Ya inilah jalan pernyelamatan bagi ketidak Rohanian mereka – supaya mereka tahu siapa sebenarnya yang tinggal di batin mereka.
Pdt Felix Agus Virgianto
Khotbah Minggu 15 Februari 2009

No comments:

Post a Comment

Post a Comment